Puluhan Tahun Tak Diperhatikan, Kondisi SD Negeri Lalonggasu di Konsel Memprihatinkan

18
Kondisi Gedung SD Negeri Lalonggasu di Konawe Selatan.

Konawe Selatan, Jaringansultra.com – Keberadaan Gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lalonggasu Kecamatan Tinanggea, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) sangat memprihatinkan.

Pasalnya bangunan sekolah yang terdiri dari enam ruang kelas belajar dan tiga ruang kelas belajar SMP Satap Tinanggea sejak tahun 2012 hingga kini belum dilakukan perehabpan, sehingga kondisi bangunanya rawan roboh.

Melihat kondisi bangunan yang belum mendapat perhatian dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konawe Selatan. Anggota DPRD Konsel Mbatono Suganda berharap pemerintah untuk menganggarkan rehab bangunan SD Negeri tersebut di tahun 2024 ini.

“Kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan. Bangunannya sudah layak untuk direhab. Mulai lantainya sudah rusak, plafon, atap hingga tembok. Termasuk fasilitas lainnya seperti meja dan kursi untuk pelajar sudah sangat parah dan minim,” ungkap Mbatono Suganda, Jumat 9 September 2023.

Anggota Komisi III DPRD Konawe Selatan, usulan rehab untuk SD Negeri Lalonggasu yang juga satu atap dengan SMP 3 Tinanggea ini sudah disampaikan dan diajukan kepada pemerintah daerah untuk dialokasikan anggaran melalui APBD sejak tahun 2020 lalu. Tetapi hingga kini belum terealisasi.

“Kami di DPRD dan juga masyarakat di Desa Lalonggasu, Palotawo dan Lalowatu berharap tahun 2024 inii sudah dialokasikan anggarannya. Kondisi fisik dengan bukti fisual melalui foto foto telah diajukan untuk dimasukkan di KUA PPAS Tahun 2023 untuk ditetapkan menjadi APBD Tahun 2024 mendatang,” katanya.

Politisi Partai Demokrat ini juga menambahkan, kiranya pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konsel untuk memberikan perhatian terkait kondisi bangunan sekolah di Lalonggasu ini. Pihak sekolah yang teriri dari Guru dan ratusan pelajar di SD dan SMP 1 Atap tidak membutuhkan gedung sekolah yang megah, tetapi cukup ruang belajar nyaman bagi pelajar dan pengajar.

“Terkadang guru dan muridnya harus meninggalkan ruang kelas belajar pada saat proses belajar, jika musim hujan keras dan juga angin kencang bertiup. Hal itu karena ditakutkan bagunan sekolah tersebut roboh atau lainnya,” tandasnya.

Sementata itu, Martati mengakui jika kondisi bangunan sekolah sudah sangat lama dan tua. Sejumlah fasilitas seperti lantai sudah keropos dan terkekupas, palpon sudah pada jatuh semua, atap juga bocor bocor dan tembok sudah rawan.

“Memamg kondisi sekolah kami sudah lama tidak direhab. Kami juga berharap DPRD dan pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Konsel untuk memberikan perhatian dengan mengalokasikan anggaran rehab dan moubiler untuk meja kursi belajar,” ujarnya.

Menurut guru kelas ini, proses belajar mengajar di ruang kelas baik itu pelajar SD maupun SMP terkadang terganggu dan harus meninggalkan ruangan, jika angin kencang bertiup, termasuk bila hujan deras. Itu karena ditakutkan, atap dan gedungnya roboh, sehingga harus mencari tempat aman.

“Kalau jumlah siswanya di SD Negeri Lalonggasu ada seratusan lebih. Sementara untuk pelajar SMP Satap 3 Tinanggea sebanyak 60-an lebih ditopang dari tiga SDN di sekitar, yakni SD Lalonggasu, Palotawo dan Lalowatu,” sebutnya.

Pantauan awak media ini, kondisi gedung SD Negeri Lalonggasu sudah sangat memprihatikan. Selain gedungnya yang sudah tua dan sejumlah fasilitasi di dalammnya rusak, SD Negeri Lalonggasu juga belum dipagar dan halaman sekolahnya sangat berdebu di musim hujan lumpur.

“Sekolah kami ini berada di poros Andoolo-Tinanggea, tetapi komdisi sekolahnya sangat memprihatinkan,” timpal salah seorang guru.

Reporter : Haerun

Editor : Ridho

Facebook Comments Box
Iklan