Gelar Aksi Diam, GMNI Kendari Duduki Gerbang Mapolda Sulawesi Tenggara 

128
DPC GMNI Kendari saat menggelar aksi diam di gerbang Mapolda Sultra

Kendari, Jaringansultra.com – Gelar aksi diam, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari mulai duduki gerbang Markas Polisi Daerah Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis 21 September 2023.

Aksi tersebut sudah dilakukan beberapa hari di setiap bundaran di Kota Kendari dengan membentangkan petaka dan tulisan kritikan yang menyoroti institusi kepolisian terkait dengan beberapa deretan pelanggan Hak Asasi Manusia (HAM) yang belum terselesaikan.

Apa lagi September Berdarah adalah momentum berkabung mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) atas meninggalnya Alm. Randi dan Yusuf pada tanggal 26 September 2023 pada saat aksi di depan DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara menuntut RUU KUHP dan RUU KPK dengan tagar Reformasi di Korupsi.

Kabid Agitrop DPC GMNI Kendari, Risal mengatakan aksi tersebut bagian dari konsolidasi sekaligus kampanye kepada seluruh masyarakat dan mahasiswa yang melintasi area tersebut.

“Banyaknya kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Sulawesi Tenggara ini menuntut kita untuk mengambil sikap sekaligus memperkuat solidaritas antar elemen mahasiswa, agar gerakan kita di hari puncaknya bisa lebih besar,” ujarnya.

Tak hanya itu, aksi diam yang di lakukan dengan menduduki gerbang Markas Polda Sulawesi Tenggara juga sebagai bentuk kekecewaan tidak profesionalnya institusi kepolisian dalam menangani masalah pelanggaran HAM khususnya kasus Alm. Randi dan Yusuf.

Sementara Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya, membeberkan mendekati peristiwa momentum sedarah aksi protes nyaris sepi menghiasi jalanan. Sehingga perlu ada upaya untuk menggalang kekuatan dan opini publik dalam mempresur kasus pelanggaran HAM selama ini.

“Orientasi dan konsolidasi gerakan nantinya akan mengerut pada tanggal 26 September 2023 nantinya. Kami mengajak kepada seluruh komponen dan elemen gerakan untuk menyatukan kekuatan, kita tunjukkan gerakan mahasiswa itu masih kuat dan solid,” harapnya.

Dengan upaya tersebut bisa memperbanyak kekuatan massa pro demokrasi dan sikap kritis dalam lingkaran kawula muda mahasiswa. Pasang surut gerakan mahasiswa sudah menjadi masalah yang akut dan lumrah dalam setiap lintasan sejarah. Tak bisa dipungkiri, itu bagian dari implikasi dari dinamika perpolitikan nasional.

Carut marut gerakan mahasiswa dan pergolakan pemikiran membuat kita sadar bahwa ada berbagai masalah dalam tubuh bangsa, lemahnya supremasi hukum dan meningkatnya pelanggaran Hak Asasi Manusia, tentunya masih banyak lagi.

“Harusnya pihak kepolisian bisa lebih maksima dan profesional dalam menyelesaikan deretan pelanggan Hak Asasi Manusia (HAM),” tegasnya.

Reporter : Ebit Vernanda

Editor : Ridho

Facebook Comments Box
Iklan