Kendari, Jaringansultra.com – Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Sulawesi Tenggara mempertanyakan hasil quick count atau hitung cepat oleh The Haluoleo Institute (THI) terhadap caleg DPRD provinsi dan DPR RI yang disampaikan ke publik pada 15 Februari 2024.
Ketua JaDI Sulawesi Tenggara, Hidayatullah, dalam penyampaian hasil quick count THI tak menyampaikan metodologi pengambilan data seperti apa. Apakah THI ini berdasarkan hasil C1 pleno, dari orang per orang yang di luar hasil dari tps atau caleg.
Lanjutnya, ia menilai hasil yang dikeluarkan ke publik oleh THI telah memunculkan konflik atau kegaduhan di internal partai politik (Parpol) peserta pemilu. di mana margin error sangat kecil yang seharusnya tidak dimunculkan. Pasalnya, caleg DPRD maupun DPR RI bukanlah peserta pemilu. Sementara untuk peserta pemilu hanya calon Presiden, DPD RI dan Parpol.
“Hasil quick count THI metodeloginya dari hasil legalitas C1 atau informasi yang didapatkan kepada orang perorang yang di luar hasil dari TPS yang dijelaskan. Sehingga memunculkan anggapan THI itu berpihak dan harusnya logo partai saja yang dimunculkan bukan calegnya,” kata Hidayatullah, Jumat 16 Februari 2024.
Mantan Ketua KPU Sultra ini meminta KPU dan Bawaslu mencermati dan tak diam saja terhadap hasil quick count THI karena dinilai berpihak. Karena salah satu manfaat quick qount itu, jajak pendapat untuk meminimalisir agar penyelenggara pemilu tidak terjadi pelanggaran.
“KPU dan Bawaslu harus berani tegur atau mengambil tindakan kepada THI, karena ini merupakan pelanggaran di pasal 448 dan 449 dalam Undang-Undang Pemilu salah satu syaratnya lembaga survei tidak boleh berpihak, tapi ini kita lihat pasti ada keberpihakan,” ucapnya.
“Seolah-olah nanti hasil KPU itu kalau berbeda dengan THI, maka dianggap curang. Padahal, THI potensinya dia yang keberpihakan. Maka saya minta THI pertanggungjawabkan itu, kalau tidak kami akan laotkan ke konsorsium mereka,” sambungnya.
Ia menambahkan, sampel THI yang diumumkan baru 65,50 persen untuk quick count caleg DPRD Sulawesi Tenggara yang akhirnya menimbulkan konflik pada para caleg.
“Jika menimbulkan konflik seperti itu, maka harus dievaluasi oleh KPU maupun Bawaslu,” tutupnya.
Sebelumnya, THI telah merilis hasil hitung cepat mulai dari Pilpres, DPD RI, Caleg DPRD RI dan DPRD Sulawesi Tenggara. THI mengumumkan sejumlah nama yang berpotensi duduk di kursi legislatif periode 2024-2029 mendatang. Salah satunya Caleg DPRD Sulawesi Tenggara Dapil Sultra 1 yakni Kota Kendari.
Terdapat lima nama dalam rilis tersebut, yakni Sudarmanto dari Partai Nasdem dengan kontribusi nilai 52,23 persen, Sudirman dari PKS kontribusi nilai 58,60 persen, Hj Gunartin dari PDIP kontribusi nilai 51,04 persen.
Kemudian Aksan Jaya Putra dark Golkar memberikan kontribusi nilai sebesar 66,18 persen, Hj Isyatin Syam dari Demokrat kontribusi nilai 50,39 persen dan Abdul Rasak dari PPP kontribusi nilai 68,31 persen.
Direktur THI, Naslim SA menyampaikan perhitungan suara pada Pemilu kali ini agak lebih lambat dibanding Pemilu 2019 lalu.
“Namun karena quick count ini masih mungkin terjadi perubahan-perubahan berdasarkan nilai yang masuk,” kata Naslim dalam siaran pers, Kamis 15 Februari 2024 kemarin di Kota Kendari.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan, nilai tersebut berdasarkan data yang masuk menunjukkan data flat atau tidak ada lagi riak-riak. Hal ini diambil berdasarkan keputusan bersama setelah melihat grafik dengan populasi pembagi yang cukup besar dan kontribusi nilai sudah tidak signifikan terhadap populasi pembaginya.
Reporter : Haerun
Editor : Ridho




























