Kendari, Jaringansultra.com – Dalam hal mewujudkan pemilu yang berkualitas dan demokratis, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari melakukan Apel Gerakan dan Deklarasi pemilu damai yang transparan, akuntabilitas, jujur, adil dan bermartabat untuk melegitimasi pemimpin yang betul-betul mewujudkan harapan masyarakat.
Deklarasi pemilu damai ini diikuti oleh anggota dan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari sebanyak 50 orang yang bertempat di Perempatan Pasar Baru, Minggu 4 Februari 2024.
Kegiatan tersebut sebagai wujud partisipasi politik guna mengawal pesta demokrasi agar lebih subtansial. Tak hanya itu, deklarasi itu juga sebagai bentuk keresahan yang tidak menginginkan pesta rakyat berpotensi mengalami perpecahan dan polarisasi di tengah masyarakat.
Ketua Cabang GMNI Kota Kendari, Rasmin Jaya dalam orasinya mengatakan, tahun politik 2024 adalah ujian berat dan sesuatu yang tidak bisa kita pandang enteng sebagai masyarakat untuk memilih pemimpin secara langsung. Pemilu adalah kedaulatan rakyat satu-satunya, jadi suara rakyat adalah kunci dalam menciptakan sosok pemimpin politik yang dilegitimasi oleh rakyat.
“Deklarasi ini kami ingin menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara agar tidak terprovokasi terhadap isu yang memecah belah bangsa, karena yang paling mendasar dari proses demokrasi ialah bagaimana rakyat mampu menentukan dan memilih para calon pemimpinnya,” tegasnya.
Ia juga membeberkan, kecerdasan dalam memilih pemimpin dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, tentu itu juga akan meningkatkan kualitas demokrasi agar semakin baik lagi. Disinilah pendidikan politik menjadi demikian penting apalagi pertarungan ide dan gagasan sangat dibutuhkan untuk memberikan gairah dan sensasi masyarakat semakin antusias berpartisipasi dalam politik.
“Harapan kami dari GMNI Kota Kendari agar pendidikan politik menjadi tanggung jawab semua pihak, khususnya para elite politik yang memiliki kedudukan strategis atau sedang memiliki peran sentral dalam sistem politik,” bebernya.
Kabid Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Kendari, Risal mengingatkan bahwa tidak sedikit diantara mereka kurang memahami bahwa politik adalah panggilan dan pengabdian untuk rakyat. Sejatinya seorang pemimpin harus memiliki jiwa tersebut.
“Hal itu tergantung dari kejujuran elite politik dalam memberikan pendidikan politik kepada publik sebab masyarakat adalah kekuatan politik yang paling nyata dan mereka adalah pemenang tertinggi kedaulatan rakyat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, tidak sedikit para pelaku politik yang bermunculan hanya menjadikan rakyat sebagai sarana mengepul suara dan hanya meramaikan pemilu setiap lima tahunnya. Kekecewaan terhadap para pemimpin yang sering melakukan pembohongan dan pengingkaran terhadap amanat rakyat yang telah mereka pilih terdahulu membuat mereka mempertimbangkan untuk memilih kembali.
“Kita menyadari dengan sungguh agar tidak mengulangi kesalahan yang sama karena rakyat sudah cukup lama menggantungkan harapan dan keinginan untuk maju. Dari sinilah seharusnya elite politik menyadari bahwa publik tidak buta dan tuli terhadap dinamika politik hari ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sarinah GMNI Kendari, Yuli dalam orasinya menegaskan tentang pentingnya politik gagasan dan peran perempuan dalam politik. Meskipun keterlibatan perempuan hanya 30 persen, tetapi partisipasi tersebut harus kita dorong sebagai wujud memperjuangkan hak-hak perempuan yang kurang tersebut selama ini.
“Kami dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mendorong paertisipasi politik perempuan dalam ruang-ruang kebijakan publik, sehingga adanya keseimbangan dalam merumuskan konsep dan program kebijakan secara merata di semua komponen masyarakat,” tegasnya.
Terakhir, Sarinah Ayu dalam orasinya menegaskan dalam upaya mencegah segala kemungkinan terburuk dalam pemilu 2024, maka merasa penting untuk melakukan konsolidasi demokrasi dan memperkuat persatuan masyarakat dalam mencegah berbagai polarisasi dan kekacauan sosial yang timbul, dibutuhkan berbagai pihak untuk melakukan sosialiasi politik dan memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.
“Kami tau masyarakat adalah kelompok sosial yang paling rentan terpecah akibat sikap politik yang berbeda, sehingga dibutuhkan penguatan lewat narasi kebangsaan dan edukasi politik yang berkesinambungan,” ujarnya.
Reporter: Ebit Vernanda
Editor: Ridho




























