Kelezatan Tunuha Kudapan Legendaris, Ikut Menjaga Interaksi Sosial

195
Tunuha yang sudah matang.

Jaringansultra.com- Tunuha menjadi salah satu kudapan legendaris yang dimiliki suku Muna yang masih dijaga hingga hari ini. Tunuha ini selain menjadi salah satu kuliner idaman bagi masyarakat setempat, juga sebagai tradisi sebagai ucapan syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan penghidupan bagi masyarakat.

Masyarakat Muna yang juga merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara juga memiliki beberapa tradisi yang melibatkan interaksi orang banyak, diantaranya detunuha. Detunuha berasal dari bahasa Muna yaitu de merupakan kata kerja atau melakukan, sedangkan tunuha artinya pembakaran. Jadi arti dari detunuha ialah membuat makanan yang berbahan ubi dengan cara dibakar.

Makanan tradisional ini berbahan dasar ubi kayu yang sudah dihaluskan menggunakan mesin giling dengan campuran gula merah dan santan (Kelapa parut). Selain itu untuk menambah cita rasa berbagai bumbu-bumbu dapur yang tidak lupa dicampurkan ke dalam adonan.

Setelah itu, campuran dari bahan makanan ini dimasukan dalam bambu
atau tempurung kelapa yang ditutupi daun pisang. Racikan inilah yang disimpan dalam tanah galian dan ditutupi dengan batu yang dibakar hingga panas dalam waktu satu malam.

Tunuha ubi kayu yang dibakar sedangkan bahan tambahan lainnya adalah kelapa, gula merah dan garam secukupnya. Ada juga yang disebut dengan tunuha kapute (tunuha berwarna putih). Tunuha berwarna putih ini dibuat hanya dari ubi kayu, garam dan kelapa. Jenis tunuha yang ini biasanya dibuat untuk menjadi makanan pokok pengganti nasi yang dimakan dengan ikan dan sayur.

Tunuha yang siap dicicipi.

Menggelar acara detunuha dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah kepulauan Muna. Salah satunya di Desa Labunti, Kecamatan Lasalepa, Kabupaten Muna, yang dilakukan dengan cara gotong royong diawali dengan membuat adonan oleh kaum perempuan, sedangkan kaum laki-laki mempersiapkan lubang di tanah dan batu yang telah dibakar.

Tidak sampai disitu saja, proses selanjutnya batu dan kayu yang telah menjadi bara ini disisipkan, lalu adonan Tunuha yang sudah dibungkus menggunakan daun pisang, dimasukan ke dalam lubang dan ditutupi kembali dengan menggunakan batu yang telah dibakar tadi, daun jati dan daun pisang. Kemudian dilapisi kembali dengan tanah sampai tidak ada lagi ruang udara uang panas yang muncul dari dalam lubang.

Salah seorang penikmat kudapan makanan tradisional ini, Wa Anti menerangkan bahwa Tunuha ini biasa dirinya sajikan menjadi cemilan yang disantap saat sedang bersantai bersama keluarga.

Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan Tunuha dilakukan dengan cara yang sangat tradisional, bahan yang digunakan pun tanpa menggunakan bahan pengawet sehingga membuat kudapan makanan khas ini lebih terasa kenikmatannya saat disantap.

“Tunuha ini bisa bertahan hingga 1 Minggu dan menjadi makanan sehat karena semua proses pembuatannya dilakukan secara alami,” terangnya.

Menjaga Interaksi Sosial

Tunuha ini merupakan makanan tradisional yang tidak hanya nikmat kalau disantap. Akan tetapi dalam proses pembuatannya terkandung nilai-nilai tradisi yang terus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat, yakni rasa gotong royong.

Yah, menariknya dari kegiatan membuat
makanan tradisional ini adalah pelibatan orang yang lebih dari satu orang, mulai dari awal pembuatan hingga sampai selesai.

Ibu-ibu menyiapkan olahan tunuha untuk dibakar. (Foto : Ebit)

Biasanya pelaksanaan pembuatan tunuha atau detunuha pada bulan September, Oktober, November atau Desember awal setiap tahunnya. Dimana, pada masa ini biasanya, ubi-ubi kayu yang merupakan tanaman palawija sudah siap dipanen. Selain itu, pada bulan-bulan tersebut kultur tanah tidak lembab atau kering, sehingga cocok digunakan untuk membakar olahan tunuha.

Gotong royong mulai terlihat ketika pelaksanaan detunuha. Setelah ditentukan tempat untuk melakukan tunuha, biasanya yang ikut kegiatan detunuha lalu mulai bekerja sama untuk
mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan.

Para Laki-laki mulai mempersiapkan perlengkapan untuk pelaksanaan detunuha seperti batu dan kayu. Mereka harus mengumpulkan batu dan kayu sebanyak yang diperlukan, serta mempersiapkan lubang yang akan digunakan untuk pembakaran. Sedangkan perempuannya mempersiapkan adonan olahan ubi kayu yang sudah digiling.

Bagi kaum laki-laki bertanggungjawab penuh terkait pembuatan lubang. Sebelum dilakukan pembuatan lubang atau katidaki (Bahasa Muna), biasanya dilakukan baca-baca doa, agar selama proses pembuatan tunuha tidak ada hambatan. (Adv)

Facebook Comments Box
Iklan