Menengok Olahan Kolope di Mubar Jadi Kuliner yang Nikmat 

42
Kolope yang diolah sebelum diiris-iris jadi kecil.

Jaringansultra.com-Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki beragam hidangan Kuliner yang dapat menggunggah selera, di setiap daerah mempunyai sebutan makanan khas yang berbeda-beda. Misalnya saja untuk di Pulau Muna Sebut saja kolope.

Kolope merupakan tanaman khas umbi-umbian yang tumbuh secara liar di dalam hutan. Ubi hutan (Kolope) ini sebenarnya memiliki kandungan racun, apabila tidak diolah dengan baik maka akan menimbulkan keracunan bagi yang mengonsumsinya. Dalam bahasa Muna, kolope bisa menyebabkan lolanu seperti pusing dan juga mual-mual. Lolanu itu adalah sebutan untuk orang yang keracunan makanan di Pulau Muna.

Rasanya Kolope ini memang biasa saja, apalagi kalau dibandingkan makanan yang penuh dengan rempah-rempah. Tapi kolope menjadi makanan pengganti nasi dan jagung. Meski rasanya biasa saja, tapi kalau sudah disajikan dengan ikan pindang atau ikan asin, dicampur dengan parutan kelapa tua, rasanya akan terasa nikmat.

Biasanya akan disajikan kalau memasuki musim tanam atau panen hasil perkebunan. Lebih mantap rasanya kalau dicampur dengan kelapa parut. Dimakan dengan ikan asin dan sayur bening juga menambah kenikmatannya.

Ubi Hutan (Kolope) yang siap diolah jadi makanan yang nikmat.

Dulu Kolope pernah menjadi makanan pokok masyarakat Muna. Kehidupan saat itu jauh lebih sulit dibandingkan sekarang. Beras hanya menjadi makanan pokok bagi yang sedikit lebih beruntung. Karena tidak semua mampu membeli beras. Oleh karena itu, leluhur dulu harus bertahan hidup dengan memanfaatkan alam. Mengolah apapun yang disediakan oleh alam, salah satunya kolope.

Pada saat ini kolope hanya di daerah tertentu yang masih mengolahnya, bahkan dijadikan sebagai mata pencaharian dengan mencari kolope di hutan kemudian diolah lalu dijual. Salah satunya, di Desa Latompe Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat (Mubar), menjadi lokasi untuk mengolah kolope ini menjadi makanan khas yang memiliki citarasa yang lezat.

Salah satu warga Desa Latompe yang mengolah kolope, Wa Umbe (45) menjelaskan, bahwa untuk mengolah kolope menjadi makanan tradisional cukup muda, akan tetapi memerlukan waktu yang cukup lama.

Proses pencucian Kolope di sungai untuk menghilangkan racunnya.

Ia juga menambahkan, untuk mengolah kolope langkah pertama yang harus dilakukan yakni, kolope setelah dikupas kemudian diiris tipis-tipis dengan menggunakan alat khusus. Setelah itu irisan itu direndam di dalam air yang mengalir seperti sungai selama 1 hari 1 malam.

“Tujuan untuk merendam ubi hutan (Kolope) di air sungai yang mengalir untuk menghilangkan getah dan juga racunnya”Ungkap Wa Umbe saat di temui di rumahnya.

Selanjutnya Wa Umbe mengatakan, setelah melalui proses perendaman, kemudian irisan kolope ini dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering.

“Setelah dijemur, kolope yang sudah kering, lalu dicetak dan dikemas dan dijual di pasar dengan harga 25 ribu,” jelasnya.

Junardin seorang penikmat sajian makanan tradisional ini menerangkan bahwa, kolope lebih nikmat jika di atasnya ditaburi kelapa tua yang sudah diparut.

“Saya biasanya makan kolope ini disandingkan dengan ikan pindang dan sayur bening untuk menambah cita rasa yang lezat,” terangnya. (Adv)

Facebook Comments Box
Iklan