Disdikbud Sultra Luncurkan Program Gerakan Ketahanan Pangan Siswa SMK dan SMA

28
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan, Yusmin.

Kendari, Jaringansultra.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) meluncurkan program gerakan ketahanan pangan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Program tersebut merupakan, gerakan implementasi dari Teaching Factory Merdeka Belajar, yang dimana siswa diajarkan untuk melakukan pembelajaran berbasis produksi standar industri.

Selain itu, gerakan ini sebagai upaya dalam rangka membantu Pemerintah dalam mengendalikan inflasi di Sulawesi Tenggara.

“Program ini kami gagas sebagai tindak lanjut perintah Bapak Gubernur kepada kami, untuk bagaimana menggerakkan sekolah-sekolah dalam rangka membantu mengatasi inflasi dari sektor kebutuhan pangan yang sederhana, dan bisa dilakukan anak-anak didik kita,” ujar Yusmin saat ditemui selesai rapat, Kamis 18 Mei 2023.

Dia menjelaskan, gerakan itu juga sebagai salah pencegahan pelonjakan inflasi pangan, yang dimana menjadi salah satu masalah penyebab inflasi seperti cabe, tomat, bawang merah. Sehingga pihaknya meluncurkan program bergerak bersama dalam rangka menangani inflasi dimulai dari dunia pendidikan.

Dalam pelaksanaan nantinya, sambung Yusmin, siswa-siswi khususnya SMK menanam tiga komoditi pangan, diantaranya cabe, tomat dan bawang merah di sekolahnya masing-masing.

“Model pelaksanaannya anak didik kita di bawah bimbingan guru melakukan budidaya penanaman cabe, tomat dan bawah merah di sekolahnya. Kegiatan itu dilakukan di luar jam pelajaran normal, tapi masih masuk dalam struktur kurikulum merdeka,” jelasnya.

“Jadi anak-anak didik kita melakukan praktek langsung untuk memenuhi kebutuhan cabe, tomat dan bawang merah tetapi tidak mengganggu jam pelajaran normal, malah dia mempertajam kompetensi dan kemampuannya,” tambahnya.

Mantan Kepala Biro Kesra Pemprov Sultra ini mengungkapkan, untuk peralatan, khususnya SMK pertanian, alat sudah terpenuhi semua, karena untuk budidaya komoditi tersebut tidak membutuhkan alat yang terlalu banyak.

“Hanya butuh pacul, skop. Jadi alat-alat pertanian sederhana saja yang dibutuhkan,” ungkapnya.

Suasan rapat peluncur program gerakan ketahanan pangan siswa bersama kepala sekolah se-Sultra.

Lalu untuk lahannya, disetiap sekolah memiliki lahan yang cukup luas untuk bisa dimanfaatkan. Sekolah yang lahannya terbatas juga bisa memanfaatkan sistem polybag.

“Untuk lahan juga, semua sekolah pasti punya lahan kosong, dan itu yang akan dimanfaatkan. Lahan di sekolah-sekolah kita juga sangat cukup, bahkan ada sekolah kita di Konawe dan Muna ada yang punya lahan sampai puluhan hektar.  Itu bisa dimanfaatkan,” tutur Yusmin.

Dari segi pembiaayaan, seperti untuk pengadaan bibit dan perawatan juga tak ada masalah, bisa menggunakan dana Bantuan Operasinal Sekolah (BOS).

“Di dana Bantuan Operasional Sekolah itu ada namanya pembiayaan untuk kebutuhan alat dan bahan praktek. Jadi bisa diambil dari situ. Kebutuhan biayanya juga tidak besar kok,” imbuhnya.

Nantinya, untuk sekolah SMK program keahlian agribisnis pertanian diwajibkan menanam 200 pohon per komoditi. Sedangkan SMK non program agribisnis pertanaian maupun SMA menanam 100 pohon per komoditi.

Untuk pemanfaatan hasil dari pertanian siswa itu nanti ada dua pola. Pola pertama, hasilnya untuk siswa sendiri dibawa pulang lalu diberikan ke orang tuannya sehingga tidak perlu membeli di pasar. Kedua bisa dibagikan ke warga sekitar atau warga tidak mampu sebagai bentuk kepedulian sekolah.

“Dan kalau produksinya berlebih, bisa dijual, hasil penjualannya bisa membeli bibit atau alat-alat pertanian untuk pengembangan yang lebih besar,” ungkapnya.

Selain terfokus untuk SMK, SMA pun bisa melakukan program ini, sebab dalam struktur kurikulum di SMA ada mata pelajaran produk kreatif dan kewirausahaan.

“Jadi bukan SMK saja, tapi SMA juga akan melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Untuk SMA, nantinya siswa atau guru-guru SMK yang akan menjadi mentor dalam proses penanaman hingga pemeliharaannya. Bisa juga dengan sistem SMK pertanian yang melakukan penyemaian bibit, SMA tinggal menanam dan merawat sampai panen.

Dia menambahkan, di Sulawesi Tenggara terdapat ratusan SMA dan SMK, jika setiap sekolah bisa menanam 100 pohon per komoditi maka bisa menghasilkan puluhan ton sekali panen per komoditi. Sebagai tindak lanjut kebijakannya, Dikbud akan menggelar rapat dengan pihak terkait dalam waktu dekat agar program segera dilaksanakan.

“Besok saya akan rapat dan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Perkebunan, Dinas Perdagangan untuk kita berkolaborasi mengatasi inflasi khususnya pangan melalui sektor pendidikan,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sultra, Rusdin Jaya menuturkan, bahwa progrma yang diluncurkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan terobosan baru.

“Khusus gerakan yang dicangkan Diknas ini adalah terobosan baru. Di mana terobosan sebagai solusi Dinas Pertanian dan dinas lain untuk bagaiman menekan laju inflasi yang begitu cukup tinggi di Sultra untuk tiga komoditas,” jelas Rusdin.

Sebagai bentuk dukungan, Dinas Pertanian akan menyiapkan penyuluh pertanian untuk mambantu sekolah-sekolah dalam budidaya cabe, tomat dan bawang.

“Program Dikbud ini membantu meregenarasi petani, dengan adanya program ini petani-petani milenial akan tumbuh,” tandasnya. (Adv)

Reporter : Asep
Editor : Ridho

Facebook Comments Box
Iklan