Kendari, Jaringan Sultra.com- Pihak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), mendukung penuh larangan siswa-siswi di Kota Kendari untuk membawa kendaraan sendiri saat ke sekolah.
Himbauan larangan siswa membawa kendaraan sendiri ke sekolah ini, disampaikan melalui surat edaran Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Kendari nomor: B/61/I/2023, yang dikeluarkan tanggal 25 Januari 2023.
Dalam surat tersebut, Kapolresta Kendari Kombespol Muh Eka Faturrahman mengimbau agar surat edaran tersebut segera ditindaklanjuti seluruh kepala sekolah SMP se-Kendari.
Menanggapi himbauan tersebut, Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Kendari, Madina mengaku mendukung adanya keputusan yang dikeluarkan korps berbaju coklat itu.
“Adanya surat edaran ini, kami dari pihak sekolah sangat mendukung karena aturan selama ini yang kami lakukan di SMP Negeri 4 Kendari sudah diperhatikan oleh pemerintah, dalam hal ini kepolisian,” katanya.
Apalagi, tambah dia, pihaknya sudah lama melaksanakan kebijakan larangan kepada siswanya untuk membawa kendaraan saat ke sekolah.
“Tentu ini sejalan dengan kebijakan kami di sekolah,” tuturnya.
Larangan untuk membawa kendaraan sendiri itu, kerap kali disampaikan kepada siswa-siswi dibeberapa kesempatan.
“Kami dari pihak sekolah selalu menyampaikan kepada siswa-siswi pada saat upacara, apel pagi, sebelum memasuki mata pelajaran, untuk tidak membawa kendaran di sekolah,” jelasnya.
Madina menegaskan, kalau ada siswa-siswi yang melanggar aturan tersebut, pihaknya akan memberikan sangsi, misalnya saja menahan motornya hingga orang tuanya sendiri yang datang mengambilnya.
“Jelasnya dari pihak sekolah tidak memberikan toleransi kepada siswa-siswi untuk membawa kendaran, mau dekat atau jauh tempat tinggalnya,” tegasnya.
Menurut dia, siswa-siswi yang membawa kendaraan sendiri, rawan akan kecelakaan. Apalagi, belum mengantongi surat izin mengemudi karena masih di bawah umur.
“Meskipun sebenarnya membawa motor di sekolah ada sisi positif seperti, akses ke sekolah lebih cepat daripada naik mobil, siswa-siswi yang jauh tempat tinggalnya tidak terlambat, tapi di sisi lain membawa motor lebih berbahaya, karena rawan kecelakaan, sehingga bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini kita tidak toleransi,” pungkasnya. (C)
Reporter : Tino
Editor : Haerun




























