Kendari, Jaringansultra.com- Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari dan Himpunan mahasiswa Islam (HMI), pertanyakan tindak lanjut dan komitmen Kapolda Sulawesi Tenggara dalam proses penyelesaian penembakan gas air mata yang dilakukan pada tanggal 12 Juni 2023 pekan lalu di Kampus Universitas Halu Oleo (UHO).
Dimana dalam aksi yang dibangun GMNI tanggal 14 Juni 2023, Kepolisian merespon secara positif bahkan akan menindaklanjuti dan mengevaluasi proses pengamanan demonstran pada aksi, namun sejauh ini belum ada progres terkait penyelidikan untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut.
Kabid Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Kendari, Risal menilai Kapolda Sulawesi Tenggara lambat dalam menyelesaikan dan bertanggung jawab terhadap insiden dan penembakan gas air mata pada saat pengamanan aksi demonstrasi yang dilakukan pada 12 Juni 2023, yang berakibat mengganggu aktivitas masyarakat.
Tak hanya itu, tembakan gas air mata pada saat itu sampai menjalar di lingkup pendidikan Universitas Halu Oleo (UHO) hingga mengganggu aktivitas mahasiswa yang melakukan pembelajaran.
“Harusnya pihak kepolisian dalam hal ini Kapolda bisa sikap secara tegas dalam merespon masalah demikian, bukan dibiarkan berlarut larut tanpa kejelasan dalam proses penyelidikan,” bebernya pada, Senin 27 Juli 2023 di Kendari.
Olehnya itu, ia meminta kepada Kapolda Sulawesi Tenggara untuk serius mengevaluasi jajaran kepolisian atas insiden yang terjadi.
Sementara Ketua DPC GMNI Kendari, Rasmin Jaya mengharapkan agar Kapolda Sulawesi Tenggara bisa lebih serius menyelesaikan masalah penembakan gas air mata yang dilakukan pada 12 Juni 2023 pekan lalu, agar persepsi publik terhadap citra kepolisian yang presisi bisa lebih baik lagi.
“Apa lagi kampus tidak terlibat sama sekali dalam aksi unjuk rasa malah mendapatkan konsekuensi dan imbasnya. Kita sangat menyayangkan proses pengamanan yang di lakukan sampai membias kepada masyarakat yang bermukim di depan kampus Universitas Halu Oleo, terlebih lagi mahasiswa baru yang sedang melakukan pemeriksaan kesehatan waktu itu, semua harus merasakan perih dan sesak napas,” tuturnya.
Reporter: Ebit Vernanda




























