Jaringansultra.com– Satu lagi kuliner tradisional yang menjadi salah satu makanan pokok atau kerap menjadi pengganti nasi bagi masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra). Kasuami atau soami ialah makanan khas daerah kepulauan seperti di Buton, Muna dan Wakatobi.
Orang Buton dan Muna menyebutnya kasuami, sementara orang Wakatobi menyebutnya soami. Kasuami yang menjadi makanan legendaris di daerah pesisir ini terbuat dari bahan dasar singkong. Bentuk dari makanan ini sangat unik, seperti tumpeng berukuran kecil atau sedang berwarna putih jika belum dikukus, akan berubah berwarna kekuning-kuningan apabila sudah masak.
Selain itu ada juga yang warnanya dibuat hitam agak keungu-unguan, tergantung keinginan dan selera ketika membuatnya. Bentuknya juga terkadang dibuat lebih melempeng berbentuk segi empat, atau biasa disebut kasuami pepe.

Kasuami biasanya disajikan dengan berbagai lauk seperti ikan, bisa ikan goreng ataupun berkuah. Lebih nikmat lagi disajikan dengan sayur pepaya muda, daun pepaya, atau bunga pepaya atau sayur-sayur lainnya. Sebagai pelengkap ditambahkan sambal tomat super pedas yang disebut Colo-colo yang isinya irisan cabe, bawang, tomat, dan perasan jeruk nipis. Rasanya ?, silakan dicoba.
Kasuami yang menjadi konsumsi makanan sehari-hari oleh warga nelayan di pesisir daerah kepulauan di Bumi Anoa itu, mempunyai kelebihan dibanding makanan lainnya. Yah, makanan tersebut tidak mudah basi, dapat bertahan hingga sampai 15-20 hari apabila sudah dikukus.
Jika belum dikukus atau masih berupa singkong parut, bisa bertahan hingga sampai satu bulan. Karena kelebihannya ini, para pelaut menjadikan makanan dari singkong ini sebagai bekal.
Penulis juga kerap mengonsumsi kasuami dan menjadi makanan favorit. Kali ini, saya bersama teman-teman mencoba menikmati kuliner kasuami bersamaan dengan ikan asap plus Colo-colo di salah satu tempat wisata kuliner di pantai Bone Buton Utara.
Salah satu penjual kasuami di pantai Bone tersebut, Irna mengungkapkan, selain buras yang menjadi pasangan ikan asap yang dijualnya, kasuami juga laris manis menjadi pauk dari ikan tersebut. “Kasuami ini juga jadi pilihan utama bagi pengunjung di sini,” tuturnya.
Kasuami yang dia jual, diakuinya dibuat sendiri. “Saya bikin sendiri, tidak terlalu sulit, hanya penuh kesabaran, karena ubinya harus diparut dulu. Kasuami ini kan tahan lapar, tapi harus sabar mengunyahnya agar bisa turun ke perut,” ucapnya sambil tersenyum.

Ia sempat menerangkan secara singkat cara pembuatannya. Kata dia, ubi atau singkong terlebih dahulu di parut. Setelah itu, parutan singkong yang telah terpisah dibungkus dengan menggunakan kain atau karung yang bersih agar produk parutan tetap higienis.
“Kemudian kita tindis-tindis mi, ini untuk mengurangi serta meniadakan kadar air ubi kayu atau hingga airnya benar-benar kering,” tuturnya.
Setelah kering, hasil parutan itu dimasukkan kedalam cetakan berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman daun kelapa. “Parutan singkong yang sudah dicetak tadi lalu dikukus selama kurang lebih 15 menit. Biasanya, saya tusuk-tusuk, apabila sudah terasa kental, maka kasoami telah matang dan siap di hidangkan atau dimakan,” ia menandaskan. (Adv)




























