Kabuto Makanan Khas Muna Wajib Kalian Coba Jika Berkunjung di Sultra, Dapat Menggoyang Lidah

1473
Makanan khas Muna, Kabuto yang terbuat dari Singkong. (Istimewa)

Jaringansultra.com– Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dikenal salah satu daerah yang kaya akan wisata alam dan laut yang sangat indah. Selain destinasi wisata tersebut, daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Anoa ini pun juga memiliki wisata kuliner khas  yang terkenal kelezatannya. Salah satunya ialah Kabuto.

Kabuto sendiri lebih luas dikenal merupakan makanan khas asal Kabupaten Muna dan Buton. Makanan  yang terbuat dari ubi kayu atau singkong bisa dinikmati sebagai pengganti nasi. Jadi apabila wisatawan atau pun pengunjung yang datang di wilayah Sultra, jangan lupa untuk menikmati makanan ini.

Makanan khas yang  berasal dari ubi kayu fermentasi yang dikukus, bertekstur lembek dan lentur saat dihidangkan ini lebih familiar bagi suku Muna dan Buton. Namun, kuliner yang dapat menggoyang lidah itu, tidak hanya didapatkan di dua kabupaten tersebut, akan tetapi jika anda berkunjung di Kendari, bisa anda temui di sejumlah rumah makan yang ada di ibu kota Provinsi Sultra itu.

Kabuto yang dicampur dengan kelapa tua yang parut. (Istimewa)

Kabuto ini merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Muna dan Buton, bahkan sejak zaman dahulu kala. Kabuto bisa menjadi makanan pengganti nasi. Apalagi dengan masyarakat yanng tinggal di daerah pesisir pantai, Kabuto ini selalu menjadi menu pilihan.

Sampai saat ini belum ada yang mengetahui mengapa makanan ini di juluki dengan nama Kabuto. Meski demikian, jika diartikan dalam bahasa Muna, Kabuto identik dengan kata Buto (Lapuk). Tentu hal ini, sesuai dengan tekstur dan warnanya. Dari segi tekstur, Kabuto sangat lembek dan kenyal-kenyal. Kemudian, dari warna, kebanyakan berwarna hitam.

Salah satu warga Muna pencinta Kabuto, Inal menerangkan terkait proses pembuatannya. Ia kerap membuat sendiri Kabuto.

Ia menjelaskan Ubi atau Singkong dibersihkan terlebih dahulu, lalu kemudian dijemur beberapa hari hingga mengering. Setelah mengering, Ubi tersebut direndam dengan air sampai beberapa jam atau hari. “Semakin lama, direndam semakin menambah cita rasa dan aroma saat disajikan,” jelasnya.

Setelah selesai direndam, ubi tersebut dipotong-potong lebih kecil, biasanya juga sebagian orang lebih memilih batangan kecil, atau juga potongan- potongan Ubi ini ditumbuk lebih halus, tergantung selera. Setelah itu, ubi tersebut di kukus hingga beberapa jam.

Biasanya untuk menikmati Kabuto ini diberi tambahan dengan parutan kelapa saat menikmatinya. Tak hanya itu, biasanya masyarakat Muna suka memakan Kabuto ini dengan tambahan ikan asin.

Sajian Kabuto khas Muna yang siap disantap. (Istimewa)

“Meskipun terdengar unik, namun rasanya Kabuto ini bisa membuat banyak orang ketagihan untuk mencicipinya lagi dan lagi,” tuturnya.

Inal juga mengungkapkan, untuk mencoba Kabuto ini, bisa datang langsung di kampung para nelayan di pesisir pantai Muna. Harganya pun juga sangat terjangkau sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu setiap porsinya lengkap dengan lauk ikan asinnya.

Salah satu penjual kuliner tradisional di pesisir pantai Kota Muna, atau area pelabuhan by pass, Wa Ima mengatakan, makanan Kabuto merupakan salah satu menu andalannya.

“Selain Kambuse Kapusu (Jagung rebus), Kabuto juga menjadi menu andalan bagi pelangganku. Selalu habis ini Kabuto, apalagi kalau saya siapkan dengan ikan asin dan juga Kapinda, ditambah dengan sayur bening,” ujarnya. (Adv/JS)

Facebook Comments Box
Iklan