
Muna, Jaringansultra.com – Kabupaten Muna merupakan salah satu dari 17 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Tenggara. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Muna Barat dan Buton Tengah membuat Kabupaten Muna mempunyai wilayah geografi yang didominasi oleh karst.
Hampir seluruh wilayah Kabupaten Muna terdiri dari batuan karst. Salah satu kecamatan yang didominasi pegunungan karst yaitu Kecamatan Lohia. Setiap desa di Kecamatan Lohia dipenuhi pegunungan karst yang didominasi oleh gua-gua.
Salah satu gua yang terkenal di Kecamatan Lohia yakni Gua Liangkabori. Terletak di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, membuat gua ini menjadi destinasi wisata sejarah yang dikunjungi oleh wisatawan.
Gua Liangkabori sangat menarik, karena gua ini menggambarkan aktivitas Kabupaten Muna pada jaman dahulu. Hampir seluruh aktivitas masyarakat Muna jaman dahulu dilukis di dinding gua Liangkabori mulai dari berburu, memanah, bercocok tanam, beternak, berburu, dan berperang, bermain layang-layang dan lain sebagainya.
Pada awalnya Gua Liangkabori pertama kali diteliti oleh seorang sejarawan bernama Kosasih S.A. pada tahun 1977. Sampai saat ini lukisan yang ada di ornamen Gua Liangkabori masih menjadi misteri bagaimana komponen untuk melukis gambar-gambar tersebut.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung di Gua Liangkabori, bisa menggunakan roda dua dan roda empat. Berjarak kurang lebih 10 Km dari Kota Raha, membuat gua ini bisa ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit.

Sebelum memasuki kawan gua, wisatawan akan dimanjakan dengan adanya gugusan batu karst yang menjulang tinggi di setiap sisi kiri kanan jalan. Gugusan karst tersebut semakin menarik dan indah karena ditumbuhi oleh beberapa pepohonan.
Tiba dikawasan Gua Liangkabori, pertama kali wisatawan akan melihat Gua Metanduno. Gua Metanduno mempunyai arti bertanduk. Mempunyai tinggi kurang lebih 4 meter dengan lebar gua sekitar 20 meter, membuat siapa saja yang memasukinya akan merasakan sensasi yang berbeda.
Dalam Gua Metanduno ini banyak dijumpai gambar atau lukisan hewan bertanduk. Selain itu, di gua ini juga akan dijumpai stalagmit dan stalaktit sehingga membuat gua ini semakin menarik.
Stalagmit merupakan pembentukan gua secara vertikal. Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ditemukan di lantai gua, biasanya langsung ditemukan di bawah stalaktit. Mineral yang dominan dalam pembentukan stalagmit adalah kalsit.
Berjalan beberapa meter dari Gua Metanduno, wisatawan akan dimanjakan dengan view Gua Liangkabori yang dikelilingi oleh bukit-bukit karst yang ditumbuhi oleh sejumlah pepohonan hijau.
Dikawasan Gua Liangkabori juga dilengkapi beberapa gazebo dengan jalan setapak yang dibentuk sedemikian rupa yang mempercantik kawasan gua.
Dari arah gazebo wisatawan akan melihat secara langsung besarnya mulut Gua Liangkabori dengan lebar kurang lebih 30 meter dan tinggi kurang lebih 7 meter.
Di dalam gua Liangkabori akan ditemukan sejumlah gambar binatang seperti kuda, rusa, babi hutan, anjing, kalajengking, ular, lipan dan lain-lain.
Tak hanya itu, seperti penjelasan sebelumnya di gua ini banyak ditemukan aktivitas masyarakat Kabupaten Muna pada jaman dulu seperti berburu, memanah, bercocok tanam, beternak, berburu, dan berperang, bermain layang-layang dan lain sebagainya.
Tak hanya Gua Liangkabori dan Metanduno mempunya gambar atau lukisan prasejarah tetapi ada 7 juga lagi yang mempunyai gambar.
Diantaranya, Gua Damalanga, Gua Lakulumbu Gua Waenserofa 1 dan 2, Gua Wabose, Gua Toko, Gua Lasabo, Gua Latanggara, Gua Sugimpatani, Gua Pominsa 1 dan 2.
Dari seluruh gua yang ada di Liangkabori gambar atau lukisan sekitar 222 buah gambar. Jumlah tersebut sebanyak 130 di antaranya menggambarkan aktivitas masyarakat Kabupaten Muna pada jaman dulu.

Salah satu yang paling menarik di Gua Liangkabori yakni Gua Sugi Patani, dimana dalam gua terdapat lukisan layang-layang purba.
Lukisan ini menjadi cikal bakal yang sangat kuat bahwa pada dasarnya permainan layang-layang berasal dari Kabupaten Muna.
Lukisan layang-layang di Gua Sugi Patani pernah diteliti oleh peneliti asal Jerman, Wolfgang Bieck. Dalam penelitiannya ia mengklaim lukisan layang-layang di Gua Liangkabori tersebut tersebut telah ada sejak periode Mesolitikum atau sekitar 9 ribu tahun sampai 9,5 ribu tahun sebelum masehi.
Karena menjadi cikal bakal asal-usul dari permainan layang-layang maka setiap tahunnya pemerintah Kabupaten Muna setiap tahunnya mengakan festival layang-layang (Kaghati Kolope).
Festival Kaghati Kolope ini sering diikuti oleh wisatawan manca negara seperti Perancis, Jerman, China dan masih banyak lagi.
Bahkan Festival Kaghati Kolope akan digelar oleh Pemerintah Kabupaten Muna tahun ini, tepatnya dipertengahan bulan Juli tahun 2023 mendatang.
Ayo tunggu apalagi segera berkunjung ke Gua Liangkabori, Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, agar kamu bisa menikmati wisata prasejarah yang di Kabupaten Muna. (ADV)
Reporter : Aris



























